WE ARE FROM LASPEGA'S
Welcome in my blog "Dicky, Dinni, Djohan, Dwi kiki"

Jumat, 06 April 2012

EFISIENSI DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN

1.      EFESIENSI
Ekonom Islam mazhab mainstream menggunakan definisi efisiensi yang sama dengan definisi ekonomi neoklasik, di mana persoalan efisiensi diwujudkan sebagai masalah optimasi. Pada perilaku konsumen tunggal, efisiensi dicapai dengan mengalokasikan anggaran tertentu pada kombinasi barang dan jasa yang memaksimumkan kegunaan konsumen. Pada kasus produsen tunggal, optimasi bisa dicapai melalui dua jalur: penggunaan kombinasi input  yang memaksimasi laba, atau; penggunaan input yang meminimumkan biaya untuk mencapai tingkat produksi tertentu.
Kali ini kita akan menganalisis bagaimana pencapaian efisiensi pada kasus dua konsumen dan dua produk. Kasus ini adalah penyederhanaan atas perekonomian kompleks yang terdiri dari banyak konsumen dan banyak produk. Namun penyederhanaan ini akan membantu kita memahami perekonomian kompleks tersebut.
Alokasi sumber daya secara efisien akan memberikan kombinasi output yang diwakili kurva kemungkinan produksi (production possibility curve – PPC). Setiap titik di atas kurva merupakan kombinasi output maksimal yang dapat dihasilkan oleh perekonomian dengan sumber daya dan tingkat teknologi tertentu. Area di dalam kurva mencerminkan alokasi sumber daya yang tidak efisien. 

Setelah produksi dilakukan, persoalan selanjutnya terletak pada distribusi hasil produksi tersebut. Distribusi hasil produksi juga harus mencapai efisiensi dengan mengoptimalkan kegunaan masing-masing konsumen.
Model yang biasa digunakan untuk analisis pada kasus distribusi dua produk kepada dua konsumen adalah Edgeworth box. Model ini dibangun dari penggabungan dua panel konsumen yang berbagi dua produk. Setiap titik dalam kotak Edgeworth ini mewakili distribusi kedua produk pada kedua konsumen. Sudut kiri bawah mewakili distribusi seluruh output ekonomi pada konsumen kedua tanpa menyisakan output untuk konsumen pertama. Sebaliknya, sudut kanan atas mewakili distribusi seluruh output ekonomi pada konsumen pertama tanpa menyisakan bagian pada konsumen kedua.
Kurva indifferen konsumen pertama dan kedua dapat digambarkan bagi tiap titik distribusi. Kurva indifferen konsumen pertama cembung (convex) terhadap sudut kiri bawah, sementara kurva indifferen konsumen kedua cembung terhadap sudut kanan atas. Kecembungan kurva indifferen terhadap titik asal panel masing-masing konsumen mencerminkan asumsi diminishing marginal utility.
Konsumen diasumsikan memiliki kekayaan awal (endowment) yang terdiri dari kombinasi berbagai output produksi dalam ekonomi. Dalam kenyataan, endowment ini merupakan pendapatan yang dapat membeli kombinasi produk tersebut. Konsep ini mirip dengan garis anggaran (budget line), tetapi kemungkinan perubahan kombinasi output tidak dapat diketahui karena harga belum ditentukan secara eksogen. Dalam model ini, harga relatif output ditentukan secara endogen.
Posisi titik endowment tidak selalu memberikan kegunaan tertinggi yang dapat dicapai kedua konsumen. Gambar di atas memperlihatkan bahwa kurva indifferen kedua konsumen yang melewati titik endowment masih saling memotong. Irisan area di dalam cekungan kedua kurva indifferen membentuk area berbentuk lensa. Kita telah mempelajari bahwa titik-titik di dalam cekungan kurva indifferen merupakan kombinasi produk yang memberikan kegunaan lebih tinggi. Dengan demikian, area berbentuk lensa tersebut mewakili berbagai kombinasi produk yang memberikan kegunaan lebih tinggi pada kedua konsumen.
Peluang untuk mendapatkan kegunaan yang lebih tinggi memberi insentif pada kedua konsumen untuk melakukan pertukaran. Masing-masing konsumen bersedia untuk menukarkan barang miliknya dengan barang lain yang memberikan kegunaan tambahan (marginal utility) lebih tinggi.
Ekuilibrium harga relatif suatu barang terhadap barang lain akan terbentuk pada tingkat di mana kedua konsumen menemukan kombinasi barang yang memberikan kegunaan tertinggi bagi keduanya. Selain tingkat harga ekuilibrium tersebut, optimasi kepuasan masing-masing konsumen akan terjadi pada kombinasi output yang berbeda.
Jika perbedaan kombinasi optimum ini terjadi, salah satu barang akan mengalami kelebihan permintaaan, sedangkan barang lain mengalami kekurangan permintaan. Barang yang kelebihan permintaan akan mengalami kenaikan harga relatif, sementara barang yang kekurangan permintaan akan mengalami penurunan harga relatif. Pada akhirnya, harga relatif kedua barang akan mencapai tingkat ekuilibrium.
Pada harga ekuilibrium ini, kedua konsumen dapat mencapai kesepakatan pertukaran yang mendistribusikan seluruh barang tanpa adanya kekurangan maupun kelebihan permintaan. Titik distribusi yang disepakati ini memberikan kegunaan tertinggi pada kedua konsumen. Setelah mencapai titik ini, tidak ada distribusi alternatif yang meningkatkan kegunaan seorang konsumen tanpa mengurangi kegunaan konsumen lain.
Situasi di mana tidak ada cara untuk meningkatkan kegunaan seorang tanpa mengurangi kegunaan orang lain mencerminkan efisiensi yang biasa disebut dengan efisien Pareto (Pareto efficient). Situasi semacam ini dianggap efisien karena pada situasi selainnya, di mana masih terdapat peluang untuk meningkatkan kegunaan seseorang tanpa mengurangi kegunaan orang lain—biasa disebut Pareto improvement—, perekonomian belum mampu mendistribusikan outputnya secara optimal sehingga seluruh konsumen mendapatkan kegunaan maksimal yang mungkin diperolehnya.
2.      DISTRIBUSI PENDAPATAN
Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan distribusi dalam ekonomi kapitalis terfokus pada pasca produksi, yaitu pada konsekuensi proses produksi bagi setiap proyek dalam bentuk uang ataupun nilai, lalu hasil tersebut didistribusikan pada komponen-komponen produksi yang berandil dalam memproduksinya, yaitu empat komponen berikut:
1)      Upah,  yaitu upah bagi para pekerja, dan sering kali dalam hal upah, para pekerja diperalat desakan kebutuhannya dan diberi upah di bawah standar.
2)      Bunga, yaitu bunga sebagai imbalan dari uang modal (interest on capital) yang diharuskan pada pemilik proyek.
3)      Ongkos, yaitu ongkos untuk sewa tanah yang dipakai untuk proyek; dan 
4)      Keuntungan, yaitu keuntungan (profit) bagi pengelola yang menjalankan praktek pengelolaan proyek dan manajemen proyek, dan ia bertanggung jawab sepenuhnya.
Akibat dari perbedaan komposisi andil dalam produksi yang dimiliki oleh masing-masing individu, berbeda-beda pula pendapatan yang didapat oleh masing-masing individu. Islam menolak butir kedua dari empat unsur tersebut di atas, yaitu unsur bunga. Para ulama Islam telah sepakat dan lembaga-lembaga fiqih –termasuk MUI juga telah mengeluarkan fatwa– bahwa setiap bentuk bunga adalah riba yang diharamkan. Adapun ketiga unsur yang lain, Islam membolehkannya jika terpenuhi syarat-syaratnya dan terealisasi prinsip dan batasan-batasannya. Sedangkan dalam ekonomi sosialis, produksi berada dalam kekuasaan pemerintah dan mengikuti perencanaan pusat. Semua sumber produksi adalah milik negara.  Semua pekerja berada dalam kekuasaan dan rezim negara. Prinsip dalam distribusi pendapatan dan kekayaan adalah sesuai apa yang ditetapkan oleh rakyat yang diwakili oleh negara dan tidak ditentukan oleh pasar. Negara adalah yang merencanakan produksi nasional. Negara pula yang meletakkan kebijakan umum distribusi dengan segala macamnya baik berupa upah, gaji, bunga, maupun ongkos sewa. Kaum sosialis mengecam masyarakat kapitalis karena di dalam masyarakat kapitalis kekayaan dan kemewahan hanya dikuasai oleh sekelompok orang, sedangkan mayoritas masyarakat adalah kaum miskin. Mereka menaruh perhatian pada produksi barang-barang perelengkapan dan barang-barang mewah yang merealisasikan kaum kaya dengan keuntungan yang tinggi bagi para pemilik modal, produksi prabotan mewah, alat-alat kecantikan, dan berbagai macam barang kemewahan tanpa menaruh perhatian pada pemenuhan kebutuhan masyarakat luas yang kebanyakan dari kaum fakir. Kadang kala mereka memproduksi barang-barang yang bermanfaat seperti gandum, susu dan lainnya
tetapi jika harganya anjlok, maka mereka spontan tidak segan-segan memusnahkannya dengan melemparkannya ke laut atau membakarnya agar harganya tetap mahal seperti yang diinginkannya.
Dalam kekuasaan sistem kapitalis barlangsung praktek-praktek monopoli yang sangat besar dan mengerikan. Kadang kala menjadi perusahaan yang bergerak dalam berbagai macam jenis usaha samapai sebagian perusahaan tersebut menjadi sebuah negara dalam negara, yang tidak tunduk pada pemeintahan setempat. Bahkan memaksa pemerintahan setempat tunduk kepada kemauan dan kepentingan mereka dengan melakukan penyuapan secara jelas dan memuaskan. Dengan demikian tidak seorang pun yang dapat memaksa mereka membuat suatu jenis produksi dan menentukkan jumlah keuntungan karena mereka sendiri yang mengatur dan menentukkan produksi dan harga. Kritik kaum sosialis terhadap kaum kapitalis tersebut memang benar. Tetapi, mereka memerangi kebatilan dengan hal yang lebih batil darinya. Mereka berlindung di bawah kekuasaan sosialisme dari monopoli kapitalisme kepada monopoli yang lebih buruk dan lebih parah, yaitu monopoli negara yang menguasai semua sarana produksi seperti tanah, pabrik, dan ladang-ladang penambangan. Negara menguasai keuntungan dan tidak dikembalikan –seperti pengakuan mereka – kepada para buruh (pekerja) yang memimpikan surga yang dijanjikan untuk mereka dalam bayang-bayang sistem sosialisme.
Sosialisme tidak dapat menghapuskan jurang perbedaan yang dikenal di dalam kapitalisme. Bahkan, di dalam sosialisme terdapat perbedaan yang mengerikan dalam soal upah antara dua batas; maksimum dan minimum mencapai perbandingan (1-50) yaitu gaji tertinggi sama dengan lima puluh kali lipat dari gaji kecil. Ekonomi Islam terbebas dari kedua kedhaliman kapitalisme dan sosialisme. Islam membangun filosofi dan sistemnya di atas pilar-pilar yang lain, yang menekankan pada distribusi para produksi, yaitu pada distribusi sumber-
sumber produksi, di tangan siapa kepemilikannya? Apa hak-hak, dan kewajiban-kewajiban atas kepelikan? Hal ini bukan berarti Islam tidak menaruh perhatian kepada kompensasi produksi. Ia memperlihatkannya juga sebagaimana kita lihat dalam perhatiannya terhadap pemenuhan hak-hak pra pekerja dan upah mereka yang adil setimpal dengan kewajiban yang telah mereka tunaikan. Distribusi dalam ekonomi Islam didasarkan pada  dua nilai manusiawi yang sangat mendasar dan penting yaitu: nilai kebebasan dan nilai keadilan.
3.      PENGUKURAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
 
1)        Kurva Lorenz
Apa yang dijelaskan diatas, dgambarkan dalam kurva Lorenz berikut ini.
Sumbu vertical adalah presentase output nasional atau pendapatan nasional. Angka-angkanya akumulatif. Sumbu horizontal menggambarkan presentase jumlah keluarga. Sumbu horizontal membagi distribusi jumlah keluarga menjadi lima kelompok, masing-masing 20% kelompok keluarga paling miskin, sampai dengan 20% keluarga paling kaya. Angka-angka sumbu horizontal juga akumulatif.
Pendapatan didistribusikan adil sempurna bila 20% keluarga paling miskin menikmati 20% pendapatan nasional. 20% kelompok keluarga berikutnya juga 20% pendapatan nasional. Dengan demikian 40% kelompok keluarga menikmati 40% pendapatan nasional. Begitu seharusnya sehingga total akumulasi 100% keluarga menikmati 100% pendapatan nasional. Dalam kondisi adil sempurna, kurva Lorenz membentuk garis lurus diagonal 0B yang membagi bidang kubus 0ABD menjadi dua segitiga sama kaki 0AB dan B0D. Jika distribusi pendapatan kurang adil, kurva Lorenz berbentuk garis lengkung 0B, menjauhi garis lurus 0B. Pada diagram 15.2.a, kita dapat membaca arti garis lengkung 0B, yaitu 20% kelompok paling miskin hanya menikmati 5% pendapatan nasional, kelompok 20% berikutnya hanya menikmati 10% pendapatan nasional sehinga 60% keluarga hanya menikmati 30% pendapatan nasional. Ternyata sebagian besar pendapatan nasional (70%) dikuasai 40% kelompok keluarga kaya. 20% kelompok keempat menikmati 30% pendapatan nasional dan 20% kelompok kelima (terkaya) menikmati 40% pendapatan nasional. Distribusi pendapatan dikatakan makin memburuk bila garis lengkung krrva Lorenz semakin menjauh dari garis diagonal. Diagram 15.2.b menunjukkan distribusi pendapatan yang sangat buruk. Kelompok 20% pertama hanya menikmati 2% pendapatan nasional. Kelompok 20% kedua hanya menikmati 5% pendapatan nasional. Kelompok 20% ketiga hanya menikmati 15% pendapatan nasional. Dan kelompok 20% keempat hanya menikmati 20% pendapatan nasional. Jadi 80% keluarga hanya menikmati 42% pendapatan nasional. Lebih dari separuh pendapatan nasional (58%) dinikmati oleh 20% kelompok keluarga paling kaya (kelompok keluarga paling kaya)
by: dwi kiki

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar